SeorangMama meminta pilot pesawat terbang untuk putar balik karena ia baru saja ingat bahwa bayinya telah tertinggal di ruang tunggu bandara Kejadianini diharapkannya menjadi pengalaman dan pelajaran di kemudian hari agar tidak terulang kembali. Seluruh calon jemaah haji plus sudah berangkat dari Banjarmasin menuju Jakarta. Pemberangkatan dibagi dalam dua kloter yakni kloter pertama pada pukul 09.00 Wita dan kloter kedua pada pukul 11.00 Wita. TiketPesawat pulang pergi dengan maskapai Saudi Airlines, Garuda Airlines, Lion Air, Citilink, flynas, dll Makan 3 kali sehari selama melakukan ibadah dengan menu Indonesia sehingga anda lebih nyaman.Kecuali pada bulan Ramadhan Visa Umrah, Ziarah Makkah, Madinah, dan City Tour Jeddah. SaudiAirlines Berikan Layanan 'Bagasi Pertama' Gratis Bagi Jamaah Haji. TepatSore hari pukul 17:30 Waktu Setempat kami berangkat dengan Saudi Airlines menuju JeddahTidak sedikit kejadian dan kesan yang timbul di pesawat iniSaat baru masuk,, buseeettt ini pesawat panjang amat yaKebetulan saya paling belakang banget tempat duduknya..Saya kalau ga tau mending ngaku ajahahahaha daripada sok tau SaudiaAirlines Indonesia | 515 followers on LinkedIn. Welcome to your world | Saudia Airlines provides the flight service in Indonesia of more than 28 regular flights per week from Jakarta, 8 flights per week from Surabaya – East Java , and 4 flights per week from Medan Kualanamu – North Sumatera . All flights are Non-Stop directly to Madinah and Jeddah. Untungnyakita naik Saudi Airlines, seorang dapat 46kg dengan maksima 2 bag. 1 bagasi dengan had 23kg. Cukup sangat. Oh ya, nak tambah sikit pasal beg. For hand luggage, saya sarankan letak lah sepersalinan pakaian - betul info ni, ada jemaah yg hilang bagasinya.. NnnGMg. Dua kali mudik terakhir, rezeki kami naik maskapai Saudi Arabia Airlines. Pas pertama naik, Emak udah angen-angen, kalau berkesempatan lewat Saudi Arabia, pengennya dalam rangka umrah atau haji. Akan tetapi, angan-angan tersebut sementara baru tinggal angan-angan. Semoga segera ada rezekinya untuk menjadi tamu Allah. Inshaa Allah. Kami pakai maskapai satu ini alasannya klasik. Karena ia menawarkan tiket dengan harga paling murah di tanggal keberangkatan dan kepulangan yang kami inginkan. Yang pertama kami gunakan akhir tahun 2017. Kedua, pas liburan musim panas tahun 2018. Harga tiketnya per orang sekitar 500 euro. Yang pertama rute Frankfurt – Soekarno Hatta pp. Kedua Frankfurt – Kuala Lumpur pp. Dari Jerman, selain Frankfurt, maskapai ini juga terbang ke bandara Munich. Jika berangkat dari Frankfurt, Jerman, keberangkatan sore hari. Sampai di Cengkareng juga sore, sekitar pukul 6 sore, jika pesawatnya on time. Emak berangkatnya lebih dahulu dibanding anggota keluarga pelancong lainnya. Pas Emak berangkat, pesawat dari Frankfurt terlambat. Tapi gak sampai sejam. Pas Bapak dan anak-anak berangkat mereka telat 2 jam-an. Padahal waktu transit di cuma 4 jam. Untungnya pesawat lanjutan ke Cengkareng masih kekejar. Sayangnya, barangnya gak ikut naik. Barangnya menyusul kemudian. Naik pesawat yang sampai pukul dua pagi di bandara Cengkareng. Dua kali naik pergi pulang dari Jerman, naik maskapai ini, pas berangkat dari Frankfurt ke CGK, maupun ke Kuala Lumpur, transit di Jeddah, selalu dapat waktu transit gak terlalu lama, sekitar 4 jam. Akan tetapi, pas baliknya, transitnya jauh lebih lama. Antara 8 – 10 jam. Pesawat Emak, dari Frankfurt langsung ke Jeddah. Sedangkan Bapak dan anak-anak sempat berhenti sebentar di Medinah, menurunkan penumpang, lalu langsung terbang ke Jeddah. Mungkin karena saat itu sedang liburan akhir tahun dan banyak orang mau umrah. Kami membeli tiket perjalanan dengan Saudia ini melalui sebuah travel daring. Ngecek harganya seperti biasa lewat Skyscanner. Setelah itu kami memilih agen travel online yang terpercaya. Jadi kami tidak selalu pilih harga yang paling murah. Ngeliat review secara keseluruhan dahulu. Kami juga mengecek, apakah travel agen online tersebut punya nomor Jerman yang bisa dihubungi. Hal itu memudahkan jika ada apa nantinya. Misalnya untuk penggantian tanggal atau perubahan lainnya. Pengalaman selama check in di Frankfurt, mau pun di Cengkareng mau pun di Kuala Lumpur, semuanya normal saja menurut Emak. Kami selalu memilih check in awal. Biar bisa santai melalui safety check di bandara yang kadang situasinya tidak bisa diprediksi. Bisa sangat ramai dan menular antriannya. Terutama di musim liburan. Di Frankfurt, konter check in penerbangan internasional dibuka 3 jam sebelum jam keberangkatan. Akan tetapi, orang mulai mengantri setengah jam, atau bahkan sejam sebelum konter check in dibuka. On Board Karena arah pesawatnya ke Saudi Arabia, tentu banyak penumpangnya orang Arab. Ada beberapa orang Jerman, atau mereka yang transit kayak kami. Di Frankfurt mereka tertib-tertib saja dalam mengantri. Beberapa wanita yang baju awalnya biasa saja jeans, tanpa penutup kepala berganti pakaian menjadi lebih tertutup sebelum masuk pesawat. Pas waktu liburan. Banyak yang umrah. Beberapa udah pakai baju ihram sejak belum naik pesawat dari Frankfurt. Sebagian ganti baju ihram di pesawat. Sebelum miqat, ada pemberitahuan lewat pengeras suara. Mengingatkan mereka yang mau umrah agar mengenakan baju ihra. Pas musim liburan, pesawatnya full-booked. Mungkin karena harganya yang juga lagi miring, sih. Makanan di pesawat Kalau dari Frankfurt ke Jeddah, banyak pramugari berkulit putih. Dan Emak perhatikan, mereka banyak memiliki pramugara juga. Kalau ke arah Kuala Lumpur atau Jakarta, sebagian pramugarinya juga berasal dari Malaysia atau Indonesia. Pertama naik dari Frankfurt ke Jeddah, pesawatnya gak terlalu gede. Dan gak ada monitor di masing-masing tempat duduk. Tapi penumpang bisa install aplikasi dan bisa menonton on-board entertainment lewat smartphone atau tablet atau laptop masing-masing. Emak malas meng-install-nya. Jadinya di jalan cuma tidur atau baca-baca inflight magazine-nya ajah. Tapi ketika giliran anak-anak dan Bapak terbang, mereka kebagian pesawat yang punya monitor di masing-masing tempat duduk. Pramugari dari Frankfurt – Jeddah juga biasa saja. Sopan, namun gak semua terlihat ramah. Satu dua terlihat agak cuek. Di dalam pesawat, service-nya juga sedang-sedang saja. Gak spesial. Kebanyakan pramugari – pramugara berinteraksi dengan para penumpang seperlunya. Frankfurt – Jeddah, ditempuh sekitar 6 jam perjalanan. Makan besar sekali. Dan snack sekali. Gak berapa lama setelah tanda sabuk pengaman dimatikan, troli minuman beredar. Penumpang bisa memilih aneka minuman dingin seperti jus, cola, dan air putih. Setelahnya, baru keluar makanan utama. Makanannya kadang terdiri dari dua pilihan. Tapi kalau udah terakhir dilayani, kadang penumpang gak bisa milih lagi. Makanannya halal semua. Rasanya lumayan. Porsinya juga cukup banyak kalau buat Emak dan anak-anak. Menunya bervariasi, antara vegetarian, ikan, ayam, serta daging. Dari Jeddah ke Jakarta, atau ke Kuala Lumpur pramugarinya banyak orang Indonesia, atau Malaysia. Yang rasanya lebih ramah. Kadang gak keberatan diajak ngobrol gayeng oleh para penumpang. Rute ini, beberapa kali Emak naiki, selalu full. Ama mereka yang umrah. Pesawatnya pun lebih besar dan baru. Pilihan entertainment lebih banyak. Termasuk film-film baru dari Hollywood, Indonesia, Korea, Thailand, India, Arab. Makanannya pun lebih nimmst di lidah Indonesia kami. Oh ya, setiap kali naik pesawat, selain petunjuk keselamatan, juga dibaca doa-doa safar. Searasa diingetin, dan paling nggak Emak ikut mengaminkan doa-doa tersebut. Transit di Jeddah Dua kali pp naik Saudi Arabia Airlines, balik ke Jermannya selalu dapat transit lama di Jeddah. Dari Jakarta ke Frankfurt, transit 8 jam. Dari Kuala Lumpur, 10 jam-an. Lumayan lama lah. Sebelum pertama kali terbang, seorang teman memberi informasi kalau tempat transit bandara Jeddah kurang nyaman. Sepi dan ramai sekali. Saat transit di Jeddah Karena ada spoiler, Emak pun sudah siyap-siayap ketika transit pertama kali. Karena musim dingin, Emak membawa selimut, walau agak tipis, serta jaket. Benar saja. Suasana di terminal transit sangat-sangat ramai. Terutama oleh mereka-mereka yang telah menjalankan ibadah umrah. Semakin malam semakin ramai. Menjelang dini hari, puncak ramainya. Yang awalnya masih bisa dapat tempat duduk, pas ramai-ramainya, persediaan tempat duduk sangat tidak memadai. Banyak diantara sudah senior. Sebagian mengenakan pakaian tipis tanpa jaket, tanpa sepatu, apalagi kaus kaki. Mereka pakai sandal saja. Padahal cuaca lumayan dingin. Apalagi Emak transitnya tengah malam, menjelang pagi. Tempat duduk penuh. Banyak yang ngemper. Tanpa alas. Aduhhhh. Di musholla, pas mau sembahyang juga dikuasai oleh penumpang asal India atau Pakistan atau Bangladesh. Mereka semuanya pada tidur atau sekadar rebahan. Berangkatnya, karena transit hanya 4 jam-an, kami bertahan di tempat transit. Kalau udah dapat tempat duduk, ya bertahan saja. Ndak usah kemana-mana. Oh ya, sebelum transit, Emak pilih pipis di pesawat dulu. Hampir gak pernah pakai toilet di area transit. Pernah mau ke toilet, ngantrinya panjang dan lama. Yowes ditahan saja sampai terbang kembali. Oh ya, kalau mau ke toilet, sebaiknya saat baru masuk gedung area transit, sebelum pemeriksaan boarding pass. Ada toilet yang lumayan sepi. Balik ke Jerman, dan transit lama, kami pilih bertahan di transit lounge. Tempat tersebut sedang penuh. Tapi kami ngeyel bertahan di sana. Awalnya ngemper di bawah. Tak apa. Yang penting kami gak kedinginan. Setelah menunggu beberapa lama, Ada jugs yang berbaik hati membagi recliner yang ditempati. Sehingga anak-anak bisa duduk. Setelah Ada yang pergi kami dapet satu recliner buat bertiga. Recliner-nya lumayan lebar. Cukup bagi tempat tidur dua anak. Emak bisa duduk. Selain itu, di transit lounge kita bisa mendapatkan makanan dan minuman gratis. Cukup dengan menunjukkan boarding pass ke petugas. Karena masih belum lapar, kami cuma minta teh hangat. Dua jam an sebelum terbang baru kami menuju ruang tunggu ramai. Syukurlah lagi sepi, Sehingga kami dapat tempat duduk. Bandara Jeddah sedang membangun terminal baru. Semoga pas terbang ke sana lagi sudah jadi dan nyaman buat transit. *** Baca juga Pengalaman Terbang dengan Turkish Airlines Baca juga Pengalaman Terbang dengan Air China 23 Sabtu Mar 2013 Saudia, atau Saudi Arabia airlines merupakan maskapai pemerintah Arab Saudi yang masuk kategori bintang 4 versi Skytrax, di bawah Garuda Indonesia yang masuk kategori bintang 5. Maskapai ini menerapkan prinsip syariah, mulai cara seragam pramugari, makanan minuman, sampai isi hiburan TV nya, dan di beberapa pesawat tersedia tempat sholat. Sebagai perbandingan maskapai terkemuka Timur Tengah Qatar, Emirates, Etihad, Oman Air dan Asia Tenggara Garuda, Malaysia, meski semua makanannya halal, tapi menyediakan minuman keras/khamr buat penumpangnya. Sedangkan di Saudia tidak menyediakan khamr. Pengalaman naik Saudia saya rasakan saat umroh lalu, dengan pengalaman sebagai berikut saat berangkat, kami berangkat dari terminal 2D, dan dilayani oleh subkontraktor/rekanan Saudia di Jakarta, hal yang sama juga kita rasakan di beberapa maskapai asing. seragam mereka merah muda, dan tidak ada syariahnya. Kebrangkatan menggunakan pesawat Boeing 747 dengan 2 tingkat. Pesawat cukup tua dengan hiburan yang minimalis dan masih terpusat, artinya semua tayangan di semua kursi sama saat kita nyalakan. Tempat duduk sempit dengan formasi 3-4-3 dikelas ekonomi, sedangkan juragan biro umroh kami dan orang kaya duduknya di kelas bisnis di depan. Karena penerbangan tambahan, pramugari/a nya orang Eropa timur yang mahal senyumnya, cuma satu yang orang Arab, yang ada di gambar di bawah, dan dia yang pimpin doa perjalanan menggunakan mic. Plus tidak ada duty free, meski ada majalahnya untuk pajangan di kursi. Makanan di kemas pada kotak khusus, diberikan 2 kali, saat baru naik dan saat mau turun. Soal rasa makanan, sangat mirip dengan Garuda dengan minum aqua gelas. Mungkin kateringnya pesan di Garuda. Sedangkan jus, susu dan kopinya brand Arab Saudi sana. Selain itu semua penumpang juga kebagian selimut dipinjami, tapi ada juga yang bawa turun karena misunderstanding kata bring back kembalikan dengan bagmasukkan tas saat pramugara kasih instruksi, hahaha, dan perlengkapan mandi pasta/sikat gigi, sisir, kaus kaki, ear plug pramugara satu-satunya yang orang arab kotak makan saudia TV saudia nunggu penuh makanan pertama makanan kedua selimut saudia saat kepulangan, kondisi pesawatnya lebih bagus, pramugari/a nya lebih ramah. makanannya juga lebih enak. Kami kebagian duduk di bagian atas pesawat Boeing 747 ini, yang berkonfigurasi 3-3. Kursi besar seperti kelas bisnis dan masih ada ruang di samping kursi. pulang ke Jakarta pesawat Pakistan lumayan lega pemandangan dari pesawat masih jadul tangga di dalam pesawat lebih lega, ada ruang kosong di samping kursi pramugari saudia arah kiblat formasi 3-3 di atas yang lebih lega daripada 3-4-3 di bawah makanan di saudia makanan di saudia 4810 miles jarak jeddah ke jakarta bacaan di saudia toilet saudia makanan di saudia inilah pesawat saudia Untuk memberikan pelayanan yang optimal dengan jalur penerbangan yang banyak, menjadi salah satu penyebab maskapai Indonesia melakukan kerja sama dengan maskapai luar negeri. Salah satu maskapai luar negeri yang bekerjasama dengan maskapai di Indonesia adalah Saudi airlines. Aku akan menceritakan pengalaman naik saudi airlines. Saudi airlines atau Saudia adalah salah satu maskapai nasional Arab Saudi dan merupakan bagian dari SkyTeam. Maskapai ini melayani penerbangan ke kurang lebih 125 tujuan di Asia, Eropa, Amerika Utara, Afrika, dan Timur Tengah. Maskapai kebanggaan Saudi Arabia ini akan memberikan penumpang pelayanan maupun fasilitas yang mewah, elegan dan tentunya membuatmu nyaman selama perjalanan. Salah satu yang menarik dari maskapai Saudi Airlines adalah memiliki mushola yang luas dan nyaman di dalam kabinnya. Musholla ini dapat menampung 10 orang sholat. Tapi perlu kamu ketahui jika sarana air di dalam pesawat terbatas. Jadi kamu bisa mengganti air wudhu dengan cara bertayamum. Dengan adanya mushola di dalam kabin Saudi Airlines, menjadikannya sebagai pesawat dengan mushola dalam kabin pertama di dunia. Menakjubkan bukan? Kamu bisa baca pengalamanku naik pesawat Scoot. Fasilitas Pesawat Saudi Airlines Pesawat milik Saudi Arabia ini, memiliki kelas ekonomi dan juga bisnis. Tentunya dari segi fasilitas yang diberikan pun akan berbeda. Apa saja sih fasilitasnya? 1. Saudi Airlines Kelas Bisnis Saudi Airlines sama seperti maskapai lainnya yang memili kelas utama dan bisnis. Pada kelas bisnis ini Saudia Airlines akan menyuguhkan beberapa fasilitas dibawah ini yang bisa kamu nikmati Business Class Lounge Jika perjalananmu jauh dan harus singgah agak lama di Jeddah maka kamu bisa memanfaatkan fasilitas ini untuk bersantai seperti tidur atau makan. Akan disediakan meja prasmanan dengan hidangan yang menggugah selera seperti nasi, ayam, daging, sayuran, roti, soup, yogurt dan minuman. Jika kamu ingin tidur kamu bisa tidur di sofa yang empuk dan nyaman hingga saatnya naik ke penerbangan Kelas Bisnis Saudia ke tujuan selanjutnya. Layanan di Dalam Kabinnya Jika sudah waktunya kamu masuk ke dalam kabinnya, dan kamu sudah duduk, kamu akan menerima minuman selamat datang dari pramugari. Pilihan minumannya antara lain jus, lemon dan smoothie kurma. Smoothie kurmanya sangat enak, rasanya creamie dan lezat. Saking enaknya banyak para penumpang yang meminta tambahan satu gelas lagi. Yang perlu kamu ketahui, Saudi Airlines hanya menyediakan makanan dan minuman halal. Kamu juga akan melihat para pramugari yang berjalan membawa teko kopi Arab dan kurma untuk menyambutmu dan para tamu penerbangan lainnya. Selain itu, kamu juga akan diberikan handuk tangan dengan aromaterapi. Kamu bisa memilih mau menggunakan handuk panas atau handuk dingin sebelum penerbangan. Kompres aromaterapi akan memberikanmu sensasi menenangkan dan membuatmu nyaman. Sebelum berangkat akan diputar doa perjalanan sesuai ajaran agama Islam di interkom dengan tambahan tampilan terjemahan bahasa Inggris. 2. Saudi Airlines Kelas Ekonomi Berikut fasilitas yang akan kamu dapatkan di Saudi Airlines Kelas Ekonomi. Kursi nyaman dengan jarak yang memadai antara kursi-kursi Hiburan seperti film, musik, dan acara TV Makanan dan minuman yang enak dan lezat selama penerbangan Bagasi gratis hingga batas berat tertentu Harga Tiket Saudi Airlines Harga tiket Saudi Airlines dapat bervariasi tergantung pada waktu pemesanan, rute penerbangan, waktu keberangkatan, dan ketersediaan tempat duduk. Kamu dapat menemukan harga tiket yang tepat dengan mengunjungi situs web resmi Saudi Airlines atau melalui agen perjalanan online yang terpercaya. Itulah tadi adalah pengalamanku naik Saudi Airlines. Kamu bisa baca pengalamanku naik pesawat lainnya ya. Baca pengalamanku naik Pelita Air juga ya. Ada yang sudah pernah naik Saudi Arabian Airlines? Mungkin banyak yang bingung kenapa kami memilih untuk naik airlines ini. Alasannya sangat simple untuk budget traveler seperti kami, yaitu cheap fare! 😉 Waktu sedang cari-cari tiket menuju Paris dengan menggunakan Skyscanner, airlines ini muncul di deretan paling atas dengan mode urutan berdasarkan harga dari yang terendah. Harga tiket yang kami dapatkan untuk penerbangan Singapore – Paris transit di Riyadh selama 4 jam adalah 320 USD per orang alias sekitar 3 juta rupiah our way to Paris!Kekhawatiran Adam waktu sadar bahwa kami bakal naik Saudi Air di bulan puasa adalah mereka tidak menyajikan makanan apalagi minuman beralkohol. Cetek banget ya alasannya? 😉 Namun ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti karena kami disodori makanan dengan menu set lengkap 2 kali. Saya tidak menyentuh roti dan appetizer karena perut saya tidak muat lagi diisi makanan. Just for info, kami terbang dari Singapore jam 5 sore, dimana kami sudah makan 2 kali. Jadi total hari itu kami makan 4x, belum lagi ditambah dengan connecting flight tengah malam yang kemungkian menyajikan supper Arabian Airlines Seating ConfigurationPesawat yang kami naiki tipenya Boeing 777-200 dengan formasi tempat duduk per barisnya 3-4-3. Leg roomnya cukup luas. Layar monitor terpasang di belakang tempat duduk dengan teknologi layar sentuh, namun beberapa ada yang rusak. Hiburan yang tersedia seperti biasa adalah film-film layar lebar maupun TV series. Tidak terlalu up to date sih koleksinya. Kami sempat menonton The Hunger Games bersama-sama di layar masing-masing. Selain itu ada juga kamera yang terpasang di bagian depan dan bawah pesawat sehingga kami bisa melihat proses landingnya melalui layar on Saudi Airlines foodMengenai pelayanan, cukup unik karena sebagian kru pesawat tidak terlalu murah senyum. Pelayanannya sih oke, cuma itu muka-muka pramugarinya kurang ekspresif. Kebetulan kami dilayani oleh seorang pramugari yang lumayan ramah terhadap kami namun agak kurang sabaran terhadap rombongan yang tidak bisa berbahasa Inggris. Di sebelah kami ada rombongan besar yang kemungkinan hendak berangkat umroh. Belakangan baru diketahui mereka dari Indonesia. Kesalahpahaman terjadi saat pramugari bertanya, “Are you fasting?” Namun ibu-ibu yang sudah agak tua tersebut tidak mengerti dan tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Alhasil mereka disodori makanan & minuman. Belakangan mereka memanggil pramugara yang lewat kemudian bilang, “Puasa.” Beberapa pramugara sepertinya mengerti bahasa Melayu atau mungkin juga Indonesia sehingga mereka mengambil kembali makanan & minuman saat serving makanan yang kedua, yakni saat buka puasa, si pramugari yang melayani area kami itu bertanya kepada saya, “Do you speak their language?” Saya tanya, “Are they from Indonesia?” Dia sedikit bengong dan bilang, “From Singapore.” Hahaha….rupanya si pramugari tersebut sotoy mengira saya orang Singapore dan rombongan umroh tersebut juga dari Singapore, hanya karena kami berangkat dari Singapore. Akhirnya Adam yang duduk lebih dekat dengan rombongan tersebut bantu menterjemahkan, “Ibu mau ikan atau ayam?” Ibu-ibu tersebut kaget dan sempat kasak-kusuk menunjuk-nunjuk Adam. Mungkin heran dan takjub ada bule yang bisa berbahasa begitulah pengalaman kami naik Saudi Air untuk pertama kalinya. So far so good. Memang tidak se-high class Emirates, tapi dengan harga super murah tersebut, tanpa dikasih makanan pun sudah bisa dibilang murah. Kami booking tiket ini hanya minggu sebelum tanggal keberangkatan, bukan berbulan-bulan sebelumnya. Dugaan kami mereka jual tiket dengan harga murah karena memang pesawatnya masih banyak seat yang kosong sehingga saat flight banyak yang tidur selonjoran di deretan 3 kursi maupun 4 kursi. Tertarik untuk mencoba naik Saudi Air? 😉 r/travel r/travel is a community about exploring the world. Your pictures, questions, stories, or any good content is welcome. Clickbait, spam, memes, ads/selling/buying, brochures, classifieds, surveys or self-promotion will be removed. Members Online

pengalaman naik saudi airlines